Minggu, 05 Mei 2013

Air Tejun

“Pengalaman adalah hal terbaik di dunia” begitulah kata orang2 sukses dan juga orang2 gagal pastinya, karna tidak mungkin sukses terus. Pasti lebih banyak gagalnya hhe.
Aku akan menulis pengalamanku beberapa hari yang lalu, refresing bersama teman2 smp ku. Setiap ada liburan teman smpku memang sering mengajak bermain besama, tetapi biasanya sedikit yang ikut. Tapi saat itu lumayan banyaklah. Mungkin karna penasaran ingin saling betemu dan bajet sedang mendukung hhe
Hari itu di planning jam 7 kumpul di suatu tempat. Dirahasiakanlah hha. Seperti biasa namanya orang indonesa walau sudah di atur sedemikian rupa tetap saja kegiatan yang dilakukan berdasar feeling, maksudnya sesenang-senang orangnya, sapenake dewe.
Akhirnya Kami berangkat bersama pukul 9. Karna menunggu satu orang dan parahnya yang ditunggu itu tidak kunjung muncul, ternyata neneknya meninggal. Innalillahi…
Berjalan dengan sepeda motor terus. Oiyya tujuan kami adalah gua dan air terjun apa lupa namanya yang berada di daerah Gunung kidul. Gunung kidul yang dulu langka penduduk sekarang malah menjadi destinasi wisata yang prospek. Akibat Kemajuan jaman hha
Kami melewati rute yang menurutku lumayan ngalang, jalanya lewat ring road muter2 gitu dan sampailah di patuk. Jalan berkelok-kelok yang terkenal akan adanya bukit bintang. Disana pemandanganya indah tenan,, Katanyaa…
Terus melewati jalan yang berliku-liku sampailah pada masalah yang menghadang. Ya di jalan sebelum jembatan aada sebuah polisi yang sedang berdiri, ia mengarahkan semua pengendara sepeda motor untuk memelankan kendaraan dan sudah dapat di tebak, diadakan sebuah oprasi surat2 sepeda motor. Beginilah nasip, saat sim ku ilang, malah ada tilangan padahal selama 1 taun ini (selama sim ku belum ilang) sim itu hanya digunakan 1 kali. We aku nyerahin ke pa polisine ndredek tenan ampe jatuhlah semua barang2 yang ada di dompet hhaha. Akhirnya uang Rp90.000 lenyap seketika, ngamal ke pa polisi, orang yang sangat membutuhkan dan satu orang memilih sidang yang pastinya capek, karna sidang di daerah gn kidul.
Setelah melewati tempat duka cita kami melanjutkan pejalanan. Dengan wajah2 yang agak lesu kami memaksakan menikmati pemandangan yang hijau apiklah. Jadi ingat saat PDT dulu rutenya situ. Nostalgialah hhe
Jalan2 terus mengikuti plang2 yang ada, walau plang tersebut sebenarnya menipu. Sang pembuat plang disamping pahala yang terus mengalir bebanding lurus dengan dosanya yang terus mengalir itu. Di tulisanya air tejun jaraknya hanya 7km. nyatanya ber km2 juauh dari tanda itu. Tapiya di syukuri saja hhe.
Sampai disana hamper saja motorku ga di tariki ongkos masuk, karna kelewatan oleh petugas. Sayange ada motor temanku yang mogok di tempat itu. Karna lama berhenti disitu jadi ketauan dan harus bayar ongkos tiket masuk obwis deh…
Di sana apa2 bayarjal. Pengompasan secara tak sadar og. Terus2 panjang ceritane akhire menuju air tejun. Di sana ada dua opsi menuju air tejun. Naek kapal atau naik kaki. Kalo naik kapal Rp10.000. kalau teman2 cwo akrabku jelaslah naik kaki. Namun kami kaum minoritas hhe
Bejalan kaki dengan hawa yang panas membuat hati juga ikut panas, mau emosi. Untungnya sesampainya di air tejun yang ada sungainya, hatiku gembira again, sungai itu bisa buat renang. Seneng tnan. Setelah sekian lama ga renang akhire renang disana. Tapi teman2ku ga ada yang ikut2. Ga ada yang bisa renang hhhah
Panjang2 crita lalu kami kembali pulang dengan cuacaa yang hujan. Asline bisa panjang tenan njuk jadi nopel ni ceritya. Namun karna males dan capeknya penulis di sudai aja dah. Sekian hhe.

 Gue ama prend gue, ga lengkapsih cuma dari hp yang kbetulan motret hhe
ini tempat buat renangnya, kedalaman 3 ampe 7 meter. di deketnya ada air tejunya. Bagus dah...

Senin, 29 April 2013

Cinta Terlarang, Elektron

Elektron duduk termenung, sesekali ia kayuhkan kedua kakinya agar ayunan bergerak perlahan. Ayunan yang sering disebut orbital merupakan tempat yang paling Elektron sukai. Jadi siapapun orang yang ingin menemukannya langsung saja menuju orbital. Walau demikian, tidaklah mudah untuk bertemu Elektron di sana. Tapi setidaknya orbitallah tempat kemungkinan Elektron melepaskan penatnya ketika ia berada di rumah atom.
“Mengapa aku selalu ingat Proton?” keluh Elektron seraya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Apa yang salah dengan perasaan ini, tidak bolehkah aku tertarik padanya?” pertanyaan yang kesekian kalinya namun tak juga Elektron mengetahui jawabannya.
Elektron menatap jauh ke depan dan terhenti pada sebuah kamar yang biasa disebut nukleous. Tatapannya sarat dengan beban namun begitu tajam seakan ingin menembus dinding kamar dimana Proton berada.
“Seandainya aku adalah Neutron, pastilah hatiku sangat senang karena aku akan selalu dekat dengan Proton” gumannya lagi.
~ *** ~
Elektron tinggal di sebuah rumah mungil bersama dua saudara angkatnya. Para tetangga memanggil rumah mungil itu dengan sebutan atom. Elektron adalah anak tertua. Kelahirannya dibantu oleh om J.J Thomson pada tahun 1897. Semenjak dalam kandungan dia sering dipanggil dengan nama sinar katoda karena Elektron merupakan anak yang diperoleh melalui tabung sinar katoda dan perkembangannya selalu dipantau oleh om William Crookes. Setelah lahir, ia diberi nama Elektron seperti yang diinginkan om G.J Stoney. Beratnya ditimbang oleh om Robert Milikan ternyata hanya 9,11 x 10-28 gram.
Adiknya yang pertama bernama Proton. Kelahirannya dibantu oleh om  E. Rutherford pada tahun 1906. Dia lebih gendut dibandingkan Elektron karena massanya 1837 kali dari massa Elektron yaitu 1,673 x 10-24 gram.
Pada tahun 1932, Elektron mempunyai adik kedua yang diberi nama Neutron. Om James Chadwick yang membantu kelahirannya. Dia hampir sama gendutnya dengan Proton karena massanya adalah 1,675 x 10-24 gram.
Walaupun mereka bersaudara dan tinggal bersama dalam rumah atom tetapi karakter ketiganya berbeda. Elektron paling tidak suka berada di dalam rumah. Baginya dunia terasa sempit jika hanya memandang tembok-tembok yang memisahkannya dengan dunia luar. Berkeliling di halaman rumah lebih mengasyikkan, Elektron dapat berjalan-jalan di taman, memandang bunga-bunga yang berkembang dan menghirup keharumannya. Saat pagi tiba, mentari akan menyusupkan kehangatannya sehingga Elektron semakin bersemangat untuk terus beraktifitas. Biasanya, Elektron akan bersepeda melalui lintasan yang disebutnya sebagai orbit. jika dia merasa lelah maka Elektron beristirahat dalam orbital. Keaktifan Elektron dianggap perilaku yang negatif oleh keluarganya.
Lain lagi dengan kedua adiknya, mereka lebih suka di dalam kamar. Kamar itu mereka sebut dengan nucleus karena itulah mereka berdua dinamakan nucleon. Walaupun begitu, Elektron tahu jika Proton terkadang tertarik dengan aktifitasnya. Sehingga mereka sering mencoba bertemu untuk saling berbagi hati. Sedangkan Neutron dia sangat cuek. Apapun yang terjadi di dalam rumah atom, dia  netral-netral saja.
Bagi keluarga atom, sifat pendiam Proton merupakan sifat yang dianggap positif. Namun bagi Elektron, Proton mempunyai karisma yang membuatnya  terlihat sempurna dibandingkan Neutron. Adanya perbedaan karakter antara Elektron dan Proton membuat mereka saling tertarik. ketertarikan inilah yang membuat beban bagi keduanya karena semestinya itu tidak ada.
~ *** ~
“Aku mohon Proton, cobalah kamu mengerti perasaanku” kata Elektron.
“Maaf Elektron, tanpa kau katakanpun aku tahu perasaanmu karena akupun merasa demikian, tapi itu tak mungkin” jawab Proton setengah tersedu menahan tangisnya.
“Jikalau kita bersatu, maka takkan ada rumah atom lagi” lanjut Proton lirih.
Elektron terdiam, dia paham sekali tak mungkin Proton meninggalkan nukleous. tapi ia juga tak mungkin menghapus ketertarikannya pada Proton dengan mudah, Mengacuhkannya saja membuat rasa menjadi gundah. Apalagi harus jauh darinya, pastilah rindu itu ada. Rindu pada perhatiannya, rindu pada cerita manjanya, rindu dengan tatapan penuh rasa rahasia yang dalam.
“Ya sudahlah, biarkanlah perasaan ini tetap ada, toch aku masih bisa memandangmu meski tak mampu bersamamu” ujar Elektron kemudian.
“Kamu tahu Proton, hanya kaulah yang sering datang dalam mimpiku dan memang hanya menjadi mimpiku….” lanjut Elektron menegaskan apa yang dirasakannya selama ini.
Keduanya kini terdiam, diam oleh ketidakberdayaan akan sebuah perasaan yang entah kapan hadir diantara keduanya. Namun mereka paham, kebahagiaan tidak selalu harus menjadi satu tetapi saling mengingatkan ketika salah, memotivasi ketika lelah, memberikan nasehat bijak ketika gundah, semoga semuanya menjadi ajang untuk ibadah. Dari perbedaan inilah yang akan menjadikan mereka dalam satu-kesatuan di rumah atom sehingga mereka dapat menempati posisi, tugas dan fungsinya masing-masing demi berputarnya dunia yang indah.

Senin, 18 Februari 2013

D & R .....


 

Setelah lama tak menuju dunia tulis menulis akhirnya aku kembali menyentuh dunia ini lagi.

Kali ini aku akan menceritakan kakak-kakak kelas yang dulunya agak menginspirasiku.

Sebut saja inisial namanya D dan R. Orang inilah tipe yang menurutku Apa Adanya, bukan Ada Apanya.

Si R adalah orang yang paling berperan membuatku seperti saat ini, ahli dalam salah satu mapel yang dulunya aku rasa asing, tidak menarik menurutku dan orang-orang awam lainya tentunya. Walaupun ada faktor-faktor lain sehingga aku menyukai mapel ini, namun dialah yang memberikan pencerahan betapa menariknya ilmu tersebut.

Yang satunya, si D juga salah satu dari banyaknya orang unik di dunia, lebih sempitnya lagi dalam kehidupan yang aku jalani. Ia memenangi banyak sekali kejuaraan-kejuaraan ilmiah, namun ia tidak ingin mempublikasikanya. Sehingga hanya segelintir orang saja yang tau. Tetapi yang paling menarik dari dirinya adalah pemikiranya. Ia memberikan solusi masalah dengan cara yang tidak biasa, lain dari yang lain. Contohnya saja mengenai masa depanya kelak, dengan banyaknya prestasi yang ia miliki Universitas-universitas di Indonesia pastilah menerima orang ini dengan senang hati. Namun kenyataanya ia malah memilih kuliah di jurusan filsafat. Kalaulah di pikir dengan nalar logika pastilah tidak akan sampai. Orang lain akan menanyakan prospek masa depan, bagai manakah sosialnya kelak dll bila sudah lulus kuliah nantinya. Tapi bagi si D ini ia pasti menjawapnya dengan santai dan jawapanya memberikan inspirasi, bagiku. Jawapanya begini “orang lain ingin bilang apa diamkan saja, biarkan anjing menggonggong, prospek masa depan itu urusan allah, kamu kalau mau nggurus urusan yang seharusnya di atur oleh Allah jadi gila kamu nantinya”. Sedikit tapi bermakna.

Aku masih ingat saat si D ini masih kelas 3 SMA, apabila orang biasa jika belajar pasti di rumah, perpus ataupun di sekolah, orang-orang ini berbeda. Mereka belajar di bawah jembatan. Aku sering ikut dengan mereka, karna jarak kost mereka yang dekat dengan rumahku. Di bawah jembatan ituya lumayan asik. Dengan hembusan angin yang menyegarkan dan suara aliran air yang agak menghiburlah, seperti suasana pedesaan yang asri, walaupun agak kotor dan apabila kalau tiba-tiba hujan, harus sabar karna disana bak ujian ketahan tubuh. Dengan yang menjadi gurunya si R ini.

Sedikit tentang si R. si R sampai saat ini masih saja berkelana. Lulus sma karna kecerobohanya sendiri ia gagal mengikuti ujian snmptn. Menurutku ilmu yang dimilikinya cukup mumpuni, nasip saja yang tidak berpihak padanya. Mungkin karna sifat nyeleneh yang biasa ia lakukan. Memang sepertinya ia pendiam, tapi ya itu pemikiran yang lain dari pada yang lain yang membuat menurut orang-orang dia ini agak menyimpang dan sifatnya ini ada di aku juga kliatanya hha. Salah satu yang dapat diteladani dari dirinya adalah pendapat bahwa “ilmu tidak harus dicari di bangku sekolah, tapi dapat dicari dimana saja”.

Sebenarnya banyak cerita menarik yang ada pada mereka, namun karna keterbatasan mata untuk tetap bekerja cukuplah segitu saja...

The End
 

 

Rabu, 12 Desember 2012

Cerita Kecilku

Kali ini aku akan bercerita sedikit tentang masa kecilku. Semua orang pasti akan ingat bagai manakah masa kecilnya dulu. Ya walau hanya sesuatu-sesuatu yang mengenang
Kalau orang-orang bilang saat aku kecil berbeda jauh sekali dengan aku yang sekarang. Ya, dengan label dulu yang disebut dengan “Anak Ragil” pasti akan berbeda perlakuan dengan kakak-kakaku yang lain. Kedua orang tuaku saat itu super sibuk (sampai saat ini sih…). Dengan ibuku yang menjadi guru sekolah di megelang, setiap hari nglaju dan bapakku yang setiap hari muter-muter Jogja dan sekitarnya sehingga waktu kecilya di urus kalau bahasa gaulnya oleh Baby sister. Walau sudah bukan bayi lagi.
Dengan adanya pengasuh ini ruang gerak bermainku jadi ga bebas. Sudah di jaga, di depan rumahpun dipasang gerbang ato apa namane untuk menutup aku agar gabisa kabur. Pernah suatu kali aku mau kabur melewati gerbang itu, badanku sudah bebas tapii kepalane nyangkut di gerbang itu. Jadiya ga bisa dibayangke nlingsep dan berita itu aja ampe masuk Koran lokal.
Tapi itu ga penting, yang ingin aku ceritakan adalah tentang Mas Hery. Mas Hery adalah mahasiswa, pengajar TPA yang di amanati bapak untuk mengajar aku. Maklum saja aku tinggal di kampung Blunyah redjo. Kampung yang dulunya banyak sekali maling bermunculan, mungkin sampe sekarang dan sekaligus pelopor berdirinya gang2 remaja yang ga jelas.
Dahulu rumahku depanya adalah lapangan. Dikenal dengan nama lapangan stm. Dahulu disana ada sebuah rumah tempat nongkrong maksiat2 gitu dan waktu kecil hobiku maen layangan jadi akrab sekali dengan orang2 yang nongkrong disana. Sehingga untuk mengantisipasi agar aku kecil tidak rusak Mas Hery solusinya.
Tapi kalau kata orang, yang baik cepat di panggil. Mungkin benar. Mas hery yang dikenal begitu santun dan sholeh dikabarkan meninggal, karna kecelakaan. Saat itu aku masih TK. Entah TK kecil atau besar aku gareti. Lah inti ceritanya disini, cerita ini juga hanya di certain oleh ibuku.
Jadi suatu ketika saat mas Hery akan di kubur, ibuku melihat aku berjalan menunduk ke bawah, sangat sedih lalu kata ibuku berpikir bahwa Kholid yang kecil itu shock berat, terpukul karna gurunya dan orang dekatnya itu meninggal.
Setelah itu ibuku mendekatiku dan memeluku dan berkata “kamu rag percaya nek Mas Hery meninggal???? Kok murung ndungkluk sedih tenan….”
Dan kata ibuku yang bilang padaku, aku menjawabnya dengan wajah polos seperti ini “sapa sek sedih, wong aku lagi ngoleki duit sek mau di uncal2ke” sampai saat ini ubuku masih tetap mengingatnya. Padahal aku gareti hhe.
Inilah salah satu pengalaman kecilku yang ga pernah dilupakan oleh ibuku. Ibuku sering sekali mengingatkan aku tentang cerita ini. Dan setiap kali ia cerita aku pasti sedikit tertawa dan malu2 hhe.

Senin, 06 Agustus 2012

Masa Depanku ???

Mungkin tidak ada remaja lain yang apabila di Tanya ingin melanjutkan kemana??? Menjawapnya dengan kuliah di tekhnologi nuklir. Memang bagi bangsa Indonesia ataupun orang-orangnya nuklir memang di anggap tabu. Mereka mengira apabila belajar tentang hal tersebut hanya akan menyusahkan orang lain. Mereka tidak tahu apakah sebenarnya nuklir itu hanya tahu kalau hal tersebut berbahaya. Pernah suatu kali temanku menanyakan bagai mana masa depanku. Dengan santai aku menjawabnya dengan melanjutkan ke “Teknologi Nuklir” mendengar hal tersebut temanku langsung kaget dan berkata “bagus-bagus, kmu belajar nuklir yang pandai. Aku juga akan berusaha melanjutkan ke HI (Hubungan Internasional). Kalau kita sudah sukses, kamu buat senjata-senjatanya, sedangkan aku akan menantang sparring Negara-negara lain. Baguskan, perpaduan sempurna pkoknya kita harus berhasil, kita buat bangsa Indonesa yang lama tidur ini terkenal” begitulah pendapat salah satu temanku itu aneh2 aetha  hhe.
Begitu juga saat aku bertanya kepada ortuku, tentang opsi anehku itu. Mereka hanya binggung bagai mana aku bisa memilih kuliah di tempat seperti itu, di kira aku akan belajar menjadi teroris. Ortuku malah memberikan opsi sebagai dokter (wajar dari dulu ampe skarang orang tua amat bangga dengan yang namanya dokter, pdahal kalau di artikan makna dokter itu juga gak bagus2 amat, berasal dari dua kata dog dan ter)
Opsi yang kedua sebagai pengacara karna menurut mereka menjadi pengacara itu sangat prospek, banyak di butuhkan. Padahal sepertinya tugas pengacara itu hanya mengakali aturan Negara yang sepertinya salah menjadi benar. Dan skill pengacarku juga nothing hhe
Opsi yang terakhir ortuku melihat keahlianku, chemistry. Tapi mereka juga malah binggung, setelah kuliah jadi apa nanti itu, apakah guru sedangkan aku sendiri langganan melanggar aturan sekolah, bagai mana nanti mengajari murid2nya. Entahlah bagai mana hasilnya, yang jelas masa depanku selalu saja tidak jelas, tanpa cita2 hahhaha
“Tenaga nuklir sangat kompetitif dibandingkan sumber energi lain. "Sekitar 30 ton uranium bisa menghasilkan 1.200 megawatt. Padahal, di Kalimantan saja kita mempunyai cadangan sekitar 10.000 ton uranium. Belum lagi di Sumatera dan Indonesia Timur,". Bandingkan dengan energy fosil (batu bara), 1 kg uranium yang di buat reaksi fusi, sama dengan 1000 ton batu bara yang digunakan sebagai sumber listrik. Belum lagi gas karbonya sebagai akibat pembakaran batu bara yang sangat banyak.
Artikelnya memang gak jelas tapi beginilah hhe.

Minggu, 22 Januari 2012

Kegiatanku


PERSAMI
                                                         Perkemahan Satu Minggu
            Seperti biasa pada hari Sabtu saya dan teman-teman mengikuti kegiatan pramuka, namun ada yang berbeda pada Sabtu ini, setelah bersosialisasi dengan adik kelas, kami akan mengadakan “kemah”.  Ada 1 lagi yang special bahwa sebelum pramuka di tutup, adik kelas diberi kertas yang digunakan untuk mengisi pilihan AMBALAN AWARD. (dalam pikiran saya seperti biasa aneh2 ae)
            Dalam tata cara adat kemah pasti diadakan namanya upacara pembukaan. Namun namanya anak yang berfikir maju, yang lain melaksanakan upacara kami berada di masjid. Sebenarnya saya hampir saja lolos menuju rumah andai tidak kepergok oleh guru atau lebih akrabnya Pembina pramuka. Namun dengan alasan yang sangat lincah dan bagus saya tidak dihukum
            Setelah melaksanakan upacara (walau tidak) kami diperintahkan untuk mendirikan tenda. Seperti biasanya lagi karna berfikir efisiensi kebanyakan putra hanya duduk-duduk di dekat warung belakang sekolah. Sebenarnya itu adalah langkah yang lebih tepat dari pada ambalan perempuan yang begitu sibuk lulu-lalang menyiapkan alat-alat untuk membuat tenda dikarenakan faktor cuaca.
            Pilihan saya akhirnya tepat, hujan deras melanda jogja (tepatnya sleman) banyak yang kehujanan tapi tidak bagi kami. Setelah kejadian tersebut lokasi kemah dipindahkan di tempat parkir sekolah. Waktu mendekati magrib, kami di instruksikan untuk bersegera dan melaksanakan sholat magrib. Entah karna apa saya yang ditunjuk menjadi penceramah setelah sholat magrib. Biasanya apabila kultum itu tentang agama, tapi tidak saat itu. Karna saya agak ahli dalam bidang chemistry so saya malah bercerita tentang hal tersebut dan biasanya berjalan hi’mat (bhasa kasarnya marai ngantuk) malah penuh dengan tertawa saat kultum tersebut.
            Setelah sholat isya’ yang dilanjutkan dengan kultum lagi (cirri khas madrasah) dilanjutkan dengan acara yang namanya saya lupa isinya tentang pensi dan pembacaan Ambalan award. Di mulai dengan yel2 dan pensi2 dan pensi yang membuat terkesaan dari kelompok putra dilanjutkan dengan award2 itu. Saya tidak suka menyebut merk siapa2 yang menang tetapi anehnya saya sendiri yang pramuka jarang, tidak terlalu mudheng malah masuk 3 dari 5 nominasi award2, rag jelas tenan kui.
            Setelah selesai kami istirahat (walau kenyataanya seperti itu). Pada pagi harinya (minggu) diawali dengan senam (saya piker sante2 tanpa tantangan) selanjutnya tantanganpun dimulai, ternyata ada Baris-berbaris.( Ini adalah kegiatan yang menurut saya kurang gawean) mengapa kita di ajari berbaris, seharusnya langsung saja praktek pas beli tiket gitu antri bukan malah latihan seperti ini. Awalnya saya tenang2 saja karna bukan menjadi pimpinanya, tapi rasa was2 datang ketika teman saya Std menjadi pimpinan. Pikiran saya langsung respon bahwa “setelah ini jd pimpinan”.
            Ternyata benar Std yang mengaku teman (tapi seperti musuh) menunjuku sebagai pimpinan. Orang2 tahu suaraku itu kecil, jarang benggok2. Saat jadi pimpinan saya hanya bisa menahan tertawa, karna pembinanya nesu2 dan teman2 tertawa semua (tidak semua tpi kebanyakan) dan teman akrab saya merasa sangat puas sekali itu. (tidak usah d lanjutkan ndak isin)
            Setelah itu game2 yang lumayanlah dilanjutkan dengan memasak. Seperti biasa teman saya itu (std) mengejek-ejek, saat kelompoknya sudah jadi makananya ia memamerkan pada kami (padahal ia hanya mbantu maenghabiskan makanan hhe) yah itu sudah biasa dan semua sudah pada hafal. Setelah akhirnya semua siap kami makan. Kami makan bak tabor bunga dalam pemakaman. Jadi nasi yang banyak itu ditaruh di atas daun pisang. Lalu ditaburilah irisan tempe telur dan juga saus kecap. Bentuknya seperti jenazah habis dimakamkan itulah.
            Acara selanjutnya adalah sharing2 gitu. Disana  banyak yang sangat antusias (tapi banyak yang tidak). Disana (tepatnya lab ips) karna nganggur saya hanya memainkan remote ac. Melihat yang pada ngantuk, saya pencet acnya dan bunyi sehingga yang pada tidur rada bangun gitu hhe. Karna bosan akhirnya saya pinjam laptop dan nonton pilm tentunya dengan head sheet (penutup kuping).
            Cerobohnya saya, saat rapat seperti itu ternyata head seetnya copot sehingga suara laptopnya keras dan saya tidak tahu (dkira suara head seet) seperti biasa malu lagilah saya. Dan saya jadi inggat kata teman saya ‘1000 nasehat tidak lebih bagus dari pada sebuah contoh”. Lalu saya berfikir bahwa saya mencontohan pada teman2 agar tidak meniru hal2 yang saya perbuat, cukup sayalah yang menjadi conto yang dikata orang itu buruk.
 Setelah acara itu seharusnya upacara penutupan namun karna ada anggota penting yang pergi upacara penutupan diganti sabtu depan, dan secara logika karna belum ditutup kita masih berkemah, walaupun dirumah dan walau tidak ikut upacara pembuka.
Apabila ada pembaca yang tersinggung saya selaku penulis mohon maaf sebesar-besarnya, karna ini hanya dalam rangka saya untuk berlatih semata. Tidak untuk menjelek-jelekan
Terima kasih
            

Jumat, 20 Januari 2012


Kisah Intan dan Arang
Ada sebuah cerita menarik tentang intan dan arang. Kisah yang ada pada salah satu puisi yang terkumpul pada Asrar I Khudi, yang ditulis oleh Bapak Pembaharu Pakistan yaitu Dr. Mohammad Iqbal.
Pada suatu hari ada satu ton arang yang iri kepada satu butir intan. Mereka iri karena mereka dihargai dengan lebih murah dari pada sebutir intan yang massanya jauh lebih kecil. Arang pun merasa tidak dihargai, intan berada di tempat yang terhormat. Intan diletakkan di wadah yang bagus dan dikenakan oleh orang-orang kaya dan dihormati, seperti pejabat, konglomerat, dan artis terkenal. Sedangkan mereka berada di tempat pembakaran sate dan tungku-tungku orang yang tidak mampu membeli elpiji.
Intan yang kemilau dan arang yang hitam sebenarnya berasal dari unsur yang sama, yaitu karbon. Hal inilah yang menjadikan arang iri. Mereka dibuat dari unsur yang sama tetapi mereka dihargai secara berbeda. Meskipun dalam wujudnya mereka sangatlah berbeda. Tetapi satu-satunya yang membedakan mereka adalah susunan atomnya.
            Intan adalah bahan yang paling keras yang ada di kerak bumi yang tersusun oleh beberapa unsur karbon. Intan dibentuk dengan temperatur dan tekanan yang sangat tinggi pada jutaan tahun yang lalu. Intan dianggap sebagai permata alam yang paling tahan lama. Intan dikenal sebagai perhiasan, padahal 80% intan didunia digunakan sebagai alat industri, misalnya untuk memotong dan mengebor. Intan digunakan sebagai perhiasan karena berkilau dan dapat memantulkan cahaya yang mengenainya. Intan yang sudah digosok sering kita kenal dengan nama berlian.
Karena intan merupakan barang yang sangat mahal harganya, maka banyak tiruan intan. Mungkin banyak tiruan intan yang dapat memantulkan cahaya lebih baik dari pada intan yang asli. Tetapi kerasnya intan tidak dapat disamai oleh barang yang lain. Intan tiruan lama-kelamaan akan tergores.
Menanggapi sifat iri arang terhadap intan. Intan pun mengatakan kepada arang, hai arang, ketahuilah, bahwa tanah hitam membantuku meningkatkan derajatku. Aku berjuang menghadapi lingkunganku yang sangat panas dan tekanan tinggi untuk menjadikan aku seperti ini. Hal inilah yang menyebabkan aku menjadi matang dan tumbuh keras melebiihi batu. Itulah sifat yang menjadi contoh padaku. Setelah menjadi batu pun aku berbagi cahaya dengan lingkunganku sehingga aku sangat dihormati dan dihargai. Tapi karena engkau belumlah matang, kau nampak hina dan tersingkir. Tubuhmu pun lunak sehingga kau dibakar orang.
Perumpamaan intan dan arang ini, Iqbal menyampaikan pesan moral yang sangat mendalam kepada manusia. Meskipun secara lahiriah manusia itu sama, tetapi derajat manusia sangat berlainan. Ada yang sangat dihargai dan ada yang sangat terhina. Semua itu terjadi tergantung pada kualitas manusia tersebut. Jika manusia terebut tegar dalam menghadapi cobaan yang begitu keras dan dia mampu melewatinya, maka ia akan menjadi orang yang sangat bernilai. Bergitu juga sebaliknya. Maka dari itu, janganlah menyerah dalam menghadapi tantangan hidup ini.