Jumat, 20 Januari 2012


Kisah Intan dan Arang
Ada sebuah cerita menarik tentang intan dan arang. Kisah yang ada pada salah satu puisi yang terkumpul pada Asrar I Khudi, yang ditulis oleh Bapak Pembaharu Pakistan yaitu Dr. Mohammad Iqbal.
Pada suatu hari ada satu ton arang yang iri kepada satu butir intan. Mereka iri karena mereka dihargai dengan lebih murah dari pada sebutir intan yang massanya jauh lebih kecil. Arang pun merasa tidak dihargai, intan berada di tempat yang terhormat. Intan diletakkan di wadah yang bagus dan dikenakan oleh orang-orang kaya dan dihormati, seperti pejabat, konglomerat, dan artis terkenal. Sedangkan mereka berada di tempat pembakaran sate dan tungku-tungku orang yang tidak mampu membeli elpiji.
Intan yang kemilau dan arang yang hitam sebenarnya berasal dari unsur yang sama, yaitu karbon. Hal inilah yang menjadikan arang iri. Mereka dibuat dari unsur yang sama tetapi mereka dihargai secara berbeda. Meskipun dalam wujudnya mereka sangatlah berbeda. Tetapi satu-satunya yang membedakan mereka adalah susunan atomnya.
            Intan adalah bahan yang paling keras yang ada di kerak bumi yang tersusun oleh beberapa unsur karbon. Intan dibentuk dengan temperatur dan tekanan yang sangat tinggi pada jutaan tahun yang lalu. Intan dianggap sebagai permata alam yang paling tahan lama. Intan dikenal sebagai perhiasan, padahal 80% intan didunia digunakan sebagai alat industri, misalnya untuk memotong dan mengebor. Intan digunakan sebagai perhiasan karena berkilau dan dapat memantulkan cahaya yang mengenainya. Intan yang sudah digosok sering kita kenal dengan nama berlian.
Karena intan merupakan barang yang sangat mahal harganya, maka banyak tiruan intan. Mungkin banyak tiruan intan yang dapat memantulkan cahaya lebih baik dari pada intan yang asli. Tetapi kerasnya intan tidak dapat disamai oleh barang yang lain. Intan tiruan lama-kelamaan akan tergores.
Menanggapi sifat iri arang terhadap intan. Intan pun mengatakan kepada arang, hai arang, ketahuilah, bahwa tanah hitam membantuku meningkatkan derajatku. Aku berjuang menghadapi lingkunganku yang sangat panas dan tekanan tinggi untuk menjadikan aku seperti ini. Hal inilah yang menyebabkan aku menjadi matang dan tumbuh keras melebiihi batu. Itulah sifat yang menjadi contoh padaku. Setelah menjadi batu pun aku berbagi cahaya dengan lingkunganku sehingga aku sangat dihormati dan dihargai. Tapi karena engkau belumlah matang, kau nampak hina dan tersingkir. Tubuhmu pun lunak sehingga kau dibakar orang.
Perumpamaan intan dan arang ini, Iqbal menyampaikan pesan moral yang sangat mendalam kepada manusia. Meskipun secara lahiriah manusia itu sama, tetapi derajat manusia sangat berlainan. Ada yang sangat dihargai dan ada yang sangat terhina. Semua itu terjadi tergantung pada kualitas manusia tersebut. Jika manusia terebut tegar dalam menghadapi cobaan yang begitu keras dan dia mampu melewatinya, maka ia akan menjadi orang yang sangat bernilai. Bergitu juga sebaliknya. Maka dari itu, janganlah menyerah dalam menghadapi tantangan hidup ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar